Al Mujaadilah ayat 11 : Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: ”Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan :”Berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui yang kamu kerjakan..

Sunday, June 10, 2018

NILAI-NILAI RAMADHAN DALAM PEMBINAAN KELUARGA DAN INSAN YANG BERTAQWA

TAQWA
Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al baqarah (2) Ayat 183). Orang yang sukses dalam menjalani Puasa Ramadhan adalah kita yang istiqamah dalam ibadah dengan ikhlas dan sesuai tuntunan Syariat, mulai sejak bulan Ramadhan sampai Ramadhan berikutnya. Ramadhan yang berhasil adalah ketika kita bisa menjalankan semua perintah Allah SWT dan Rasul-Nya serta menjauhkan diri agar tidak berbuat dan mendekati hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Tidak berhenti hanya di bulan Ramadhan, tetapi konsisten dan terus meningkat pasca Ramadhan.
BERTANGGUNGJAWAB DAN IHSAN
Allah SWT berfirman: “(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al baqarah (2) Ayat 184). Dalam ayat ini kita dituntun menjadi insan yang bertanggungjawab. Puasa adalah wajib, dan bagi yang meninggalkan puasa, maka harus bertanggungjawab dengan cara mengganti puasanya, berpuasa setelah Ramadhan sebanyak hari yang ditinggalkan atau bagi mereka yang sudah tidak mampu berpuasa, maka wajib membayar fidyah . Selain itu, melalui ayat ini, Islam menuntun kita menjadi orang yang senantiasa termotivasi untuk memberi yang lebih baik, memberi di atas standar, sebagaimana ayat menyebutkan: "Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya".
MEMUDAHKAN DAN JANGAN MEMPERSULIT, PERBANYAK DZIKIR DAN BERSYUKUR
Allah SWT berfirman: “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al baqarah (2) Ayat 185).
OPTIMAL DALAM PENGENDALIAN DIRI
Allah SWT berfirman: “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan Puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.” (QS. Al baqarah (2) Ayat 187). Dengan puasa Ramadhan, seorang Muslim dilatih untuk mampu menahan diri dari hal-hal yang dihalalkan. Makan, minum, dan berhubungan suami istri pada prinsipnya adalah halal, tetapi dalam bulan ramdhan, semua itu ditahan, semua itu dikendalikan. Jika seorang Muslim mampu mengendalikan diri dari hal-hal yang dihalalkan, maka insyaAllah pasca Ramadhan kita akan mampu mengendalikan diri dari hal-hal yang diharamkan.
BERBAKTI KEPADA ORANG TUA, PERBANYAK SHALAWAT, DAN JANGAN SIA-SIAKAN RAMADHAN
Al-Imam ath-Thabrani meriwayatkan dari Ka’ab bin ‘Ujrah r.a : “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari menuju mimbar, ketika Beliau naik ke anak-tangga pertama, beliau berkata, ‘Aamiin.’. Lalu beliau naik lagi ke anak-tangga kedua dan berkata, ‘Aamiin.’. Lalu beliau naik lagi ke tangga yang ketiga dan berkata, ‘Aamiin.’. Ketika beliau turun dari mimbar dan selesai berkhutbah, kami berkata, ‘Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami telah mendengar sebuah perkataan darimu pada hari ini.’. Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Kalian mendengarkannya?’. Mereka menjawab, ‘Benar.’. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Sesungguhnya Jibril menampakkan dirinya ketika aku sedang menaiki tangga, lalu ia berkata, ‘Rahmat Allah jauh bagi orang yang menemukan kedua orang tuanya di waktu tua atau salah satunya, lalu ia tidak memasukkannya ke dalam Surga.’ Rasulullah berkata: ‘Lalu aku berkata, ‘Aamiin.’’. Jibril berkata, ‘Rahmat Allah jauh bagi orang yang ketika namamu disebutkan tetapi ia tidak bershalawat kepadamu.’ Lalu aku berkata, ‘Aamiin.’. Jibril berkata, ‘Rahmat Allah jauh bagi orang yang menemukan Ramadhan tetapi ia tidak diampuni.’ Lalu aku berkata, ‘Aamiin.’”. [Hadits Riwayat ath-Thabrani].
“Dan Rabb-mu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkan-lah kepada mereka perkataan yang mulia.” [Al-Qur’an Surah Al-Israa’: 23].
TERUS BERBUAT BAIK JANGAN BERBUAT BURUK, KARENA TIDAK ADA PERBUATAN BURUK YANG MENGHASILKAN KEBAIKAN
“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri,…..” [Al-Qur’an Surah Al-Israa’ : 7].
TEBAR MANFAAT, JADILAH ORANG YANG BERMANFAAT
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ nomor:3289).
* * *
Cuplikan dalil pokok-pokok Ceramah yang disampaikan oleh Pengurus Majelis Ilmu 114: Muhammad Nauval Al – Ammari di daerah Duren Sawit, Jakarta Timur, pada tanggal 9 Juni 2018.