Al Mujaadilah ayat 11 : Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: ”Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan :”Berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui yang kamu kerjakan..

Santunan Anak Yatim Dhuafa

Jumadil Akhir 1437H / April 2016, Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan.

Sahabat Majelis Ilmu

Foto bersama bulan Ramadhan 2013

Sahabat Majelis Ilmu 114 di Taman Mini Indonesia Indah

Silaturahim Bulanan Ke-2 Majelis Ilmu 114 pada Bulan Februari 2014

Tuesday, January 30, 2018

SIFAT-SIFAT ORANG BERIMAN DAN BERTAQWA

Siapakan orang-orang yang beriman dan bertaqwa ? Allah SWT berfirman: “(yaitu) orang-orang yang mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat”. [An-Naml (27) ayat 3]. Dalam ayat yang lain dijelaskan “(yaitu) yang bersabar dan bertawakkal kepada Tuhannya”. [Al-Ankabut (29) ayat 59].

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya”. [Al-A’raf (7) ayat 201]. Orang yang senantiasa ingat kepada Allah SWT akan selalu dekat dengan Masjid. Allah SWT berfimran: “Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk”. [At Taubah (9) ayat 18].

Tidak hanya itu, dalam Al-Qur’an kita banyak memperoleh penjelasan:

Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. [Al-Furqan (25) ayat 63].

Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. [Al-Furqan (25) ayat 64].

Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal.". [Al-Furqan (25) ayat 65].

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. [Al-Furqan (25) ayat 67].

Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), [Al-Furqan (25) ayat 68].

Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. [Al-Furqan (25) ayat 72].

Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat- ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang- orang yang tuli dan buta. [Al-Furqan (25) ayat 73].

Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. [Al-Furqan (25) ayat 74].

Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung. [Al-Mujadilah (58) ayat 22].

* * *

Tuesday, December 5, 2017

PENERIMA MANFAAT BULAN SEPTEMBER-OKTOBER 2017

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim.

Assalammu’alaikum Warahmatullahi Wabarakahtuh.

Alhamdulillahi Rabbil Alamin, Shalawat dan Salam kepada Rasulullah SAW beserta Para Pengikutnya, Umat Islam.

Pada bulan Muharram-Safar 1439H / September-Oktober 2017, penyaluran dana Baitul Mal MI-114 telah diberikan kepada 3 orang Mustahiq terdiri dari 1 orang teknisi gedung dan 2 orang petugas kebersihan di daerah Falatehan, Jakarta Selatan.

Terima kasih kepada Para Sahabat Majelis dan Jama’ah Masjid Al-Mu’minun, khususnya Para Donatur yang telah memberikan dukungan untuk Pengembangan Majelis. InsyaAllah setiap amal kita bernilai ibadah dan membawa barakah yang besar dan banyak untuk kita dan keluarga kita.

Walhamdulillahi Rabbil Alamin.

Salam ShemangatzZz.

Imam Majelis Ilmu 114.

* * *


Tuesday, November 28, 2017

SHALAT DALAM AYAT-AYAT AL-QUR'AN

KIBLAT.

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit (Nabi Muhammad s.a.w. sering melihat ke langit berdo’a dan menunggu-nunggu turunnya wahyu yang memerintahkan beliau menghadap ke Baitullah), maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan” (Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 144).

“Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Qur’an Surah Al-Muzammil ayat 20).

SHALAT SESUAI TUNTUNAN.

Sesungguhnya Shalat menghadap ke kiblat pada waktu-waktu yang telah ditentukan (Maghrib, Isya, Shubuh, Dzuhur, dan Ashar) merupakan salah satu tuntunan bagi Muslim untuk Bersatu dalam satu visi dan misi yaitu “Hidup untuk Ibadah” dengan niat Lillahi ta’ala, berpedoman kepada satu Kitab Suci yaitu Al-Qur’an dan menjalaninya sesuai tuntunan Rasulullah SAW.

Mari kita jadikan Shalat sebagai kebutuhan dan bukan sekedar melunasi kewajiban. Shalatlah kita sesuai tuntunan dan jangan kita sesatkan diri kita dengan perbuatan dosa dan ibadah tanpa tuntunan Islam. Oleh karena itu hendaklah setiap Muslim memperhatikan hal-hal yang diperintahkan dan hal-hal yang dilarang dalam Shalat. Sesungguhnya Allah SWT berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub (Menurut sebahagian ahli tafsir dalam ayat ini termuat juga larangan untuk bersembahyang bagi orang junub yang belum mandi), terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun” (Al-Qur’an Surah An-Nisa ayat 43).

TUNTUNAN SHALAT TELAH LENGKAP DAN SESUAI DENGAN SEGALA KONDISI

“Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar (Menurut pendapat jumhur arti qashar di sini ialah: sembahyang yang empat rakaat dijadikan dua rakaat/meringkas raka’at Shalat) sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (Al-Qur’an Surah An-Nisa ayat 101).

“Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan. Kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah (shalatlah), sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 239).

Begitu indah tuntunan Islam yang telah mengatur secara lengkap semua urusan Ibadah dengan memperhitungkan semua kondisi yang mungkin terjadi.

TERUS BERUSAHA UNTUK KHUSYU’ DALAM SHALAT

Muslim yang sejati tidak sekedar memperhatikan hal-hal yang wajib dan hal-hal yang dilarang, tetapi juga memperhatikan hal-hal yang disunnahkan atau hal-hal yang dianjurkan dalam Islam. Sesungguhnya dalam setiap sunnah dan anjuran Islam pasti terdapat keberkahan. Maka setiap orang-orang yang beriman pasti akan berlomba-lomba untuk menunaikan sunnah dan anjuran Islam. Allah SWT menjadikan Al-Qur’an sebagai tuntunan bagi orang-orang yang bertaqwa dalam menjalani hidup dan menyelesaikan setiap persoalan dalam hidup. Allah SWT berfirman:

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’,(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 45-46).

* * *

Tuesday, October 3, 2017

PENERIMA MANFAAT BULAN AGUSTUS 2017

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim.

Assalammu’alaikum Warahmatullahi Wabarakahtuh.

Alhamdulillahi Rabbil Alamin, Shalawat dan Salam kepada Rasulullah SAW beserta Para Pengikutnya, Umat Islam.

Pada bulan Dzulhijjah 1438H / Agustus 2017, penyaluran dana Baitul Mal MI-114 telah diberikan kepada 2 orang Mustahiq terdiri dari 1 orang laki-laki lansia pemulung sampah dan 1 orang laki-laki petugas kebersihan di daerah Falatehan, Jakarta Selatan.

Terima kasih kepada Para Sahabat Majelis dan Jama’ah Masjid Al-Mu’minun, khususnya Para Donatur yang telah memberikan dukungan untuk Pengembangan Majelis. InsyaAllah setiap amal kita bernilai ibadah dan membawa barakah yang besar dan banyak untuk kita dan keluarga kita.

Walhamdulillahi Rabbil Alamin.

Salam ShemangatzZz.

Imam Majelis Ilmu 114.

* * *


Thursday, September 28, 2017

HIJRAH

 
كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
 
“Setiap manusia pernah berbuat salah. Namun yang paling baik dari yang berbuat salah adalah yang mau bertaubat.” (HR. Tirmidzi no. 2499; Ibnu Majah, no. 4251; Ahmad, 3: 198. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At Tahrim: 8). 
 
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ 

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar: 53).

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ


“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133).

وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً ۚ وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nisa: 100).

Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinaan Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Dahulu pada masa sebelum kalian ada seseorang yang pernah membunuh 99 jiwa. Lalu ia bertanya tentang keberadaan orang-orang paling alim. Namun ia ditunjuki pada seorang rahib. Lantas ia pun mendatanginya dan berkata, ”Jika seseorang telah membunuh 99 jiwa, apakah taubatnya diterima?” Rahib pun menjawabnya, ”Orang seperti itu tidak diterima taubatnya.” Lalu orang tersebut membunuh rahib itu dan genaplah 100 jiwa yang telah ia renggut nyawanya.

Kemudian ia kembali lagi bertanya tentang keberadaan orang yang paling alim. Ia pun ditunjuki kepada seorang ‘alim. Lantas ia bertanya pada ‘alim tersebut, ”Jika seseorang telah membunuh 100 jiwa, apakah taubatnya masih diterima?” Orang alim itu pun menjawab, ”Ya masih diterima. Dan siapakah yang akan menghalangi antara dirinya dengan taubat? Beranjaklah dari tempat ini dan ke tempat yang jauh di sana karena di sana terdapat sekelompok manusia yang taat kepada Allah Ta’ala, maka sembahlah Allah bersama mereka. Dan janganlah kamu kembali ke tempatmu (yang dulu) karena tempat tersebut adalah tempat yang amat buruk.”.

Laki-laki ini pun pergi (menuju tempat yang ditunjukkan oleh orang alim tersebut). Ketika sampai di tengah perjalanan, maut pun menjemputnya. Akhirnya, terjadilah perselisihan antara malaikat rahmat dan malaikat adzab. Malaikat rahmat berkata, ”Orang ini datang dalam keadaan bertaubat dengan menghadapkan hatinya kepada Allah”. Namun malaikat adzab berkata, ”Orang ini belum pernah melakukan kebaikan sedikit pun”. Lalu datanglah malaikat lain dalam bentuk manusia, mereka pun sepakat untuk menjadikan malaikat ini sebagai pemutus perselisihan mereka. Malaikat ini berkata, ”Ukurlah jarak kedua tempat tersebut (jarak antara tempat jelek yang dia tinggalkan dengan tempat yang baik yang ia tuju). Jika jaraknya dekat, maka ia yang berhak atas orang ini.” Lalu mereka pun mengukur jarak kedua tempat tersebut dan mereka dapatkan bahwa orang ini lebih dekat dengan tempat yang ia tuju. Akhirnya,ruhnya pun dicabut oleh malaikat rahmat.”.

* * *

Tuesday, August 22, 2017

PENERIMA MANFAAT BULAN JULI 2017

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim.
Assalammu’alaikum Warahmatullahi Wabarakahtuh.
Alhamdulillahi Rabbil Alamin, Shalawat dan Salam kepada Rasulullah SAW beserta Para Pengikutnya, Umat Islam.

Pada bulan Syawal 1438H / Juli 2017, penyaluran dana Baitul Mal MI-114 telah diberikan kepada 2 orang Mustahiq terdiri dari 1 orang laki-laki pemulung sampah di daerah Tomang Tinggi, Jakarta Barat dan 1 orang laki-laki lansia pemulung sampah di daerah Falatehan, Jakarta Selatan.

Terima kasih kepada Para Sahabat Majelis dan Jama'ah Masjid Al-Mu'minun, khususnya Para Donatur yang telah memberikan dukungan untuk Pengembangan Majelis. InsyaAllah setiap amal kita bernilai ibadah dan membawa barakah yang besar dan banyak untuk kita dan keluarga kita.

Walhamdulillahi Rabbil Alamin.
Salam ShemangatzZz.
Majelis Ilmu 114.

* * *


Wednesday, August 16, 2017

QURBAN UNTUK KITA DAN KELUARGA KITA

Dalam rangka menyambut Idul Adha 1438H, sebagai wujud rasa syukur kita atas setiap ni’mat yang telah Allah SWT berikan untuk kita dan keluarga kita, mari kita mulai bersiap untuk berqurban, sebagaimana Firman Allah SWT:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Dirikanlah shalat dan berqurbanlah (an nahr).” [QS. Al Kautsar: 2]. Di antara tafsiran ayat ini adalah “berqurbanlah pada hari raya Idul Adha (yaumun nahr)”. Tafsiran ini diriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Tholhah dari Ibnu  ‘Abbas, juga menjadi pendapat ‘Atho’, Mujahid dan jumhur (mayoritas) ulama. [Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 9: 249.].

Dan hendaknya dalam menunaikan ibadah Qurban, kita luruskan niat kita hanya untuk mencari ridha Allah SWT dan sebagai wujud upaya kita untuk syiar Islam.

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. [QS. Al-An’am, ayat 162].

Khususnya bagi Muslim yang telah memiliki kemampuan untuk berqurban, maka hendaknya berqurban dengan qurban yang terbaik untuk dirinya dan keluarganya. Namun sekiranya ada keterbatasan, maka hendaknya tetap upayakan untuk berqurban walaupun dengan seekor kambing dan diniatkan untuk keluarga yang ditanggungnya.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِكَبْشٍ أَقْرَنَ يَطَأُ فِي سَوَادٍ وَيَبْرُكُ فِي سَوَادٍ وَيَنْظُرُ فِي سَوَادٍ فَأُتِيَ بِهِ لِيُضَحِّيَ بِهِ فَقَالَ لَهَا يَا عَائِشَةُ هَلُمِّي الْمُدْيَةَ ثُمَّ قَالَ اشْحَذِيهَا بِحَجَرٍ فَفَعَلَتْ ثُمَّ أَخَذَهَا وَأَخَذَ الْكَبْشَ فَأَضْجَعَهُ ثُمَّ ذَبَحَهُ ثُمَّ قَالَ بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ ثُمَّ ضَحَّى بِهِ

Dari ‘Aisyah, ia berkata, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam meminta diambilkan seekor kambing kibasy. Beliau berjalan dan berdiri serta melepas pandangannya di tengah orang banyak. Kemudian beliau dibawakan seekor kambing kibasy untuk beliau buat qurban.” Beliau berkata kepada ‘Aisyah, “Wahai ‘Aisyah, bawakan kepadaku pisau”. Beliau melanjutkan, “Asahlah pisau itu dengan batu”. ‘Aisyah pun mengasahnya. Lalu beliau membaringkan kambing itu, kemudian beliau bersiap menyembelihnya, lalu mengucapkan, “Ya Allah, terimalah ini dari Muhammad, keluarga Muhammad, dan umat Muhammad”. Kemudian beliau menyembelihnya.”[HR. Muslim no. 1967.].

Dalil tersebut telah menunjukkan bahwa qurban yang kita lakukan dapat kita niatkan untuk keluarga kita.

كَانَ الرَّجُلُ فِي عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُضَحِّى بِالشَّاةِ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ

”Pada masa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam ada seseorang (suami) menyembelih seekor kambing sebagai qurban bagi dirinya dan keluarganya.” [HR. Tirmidzi no. 1505, Ibnu Majah no. 3138. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Al Irwa’ no. 1142.]

Dengan demikian, telah jelas bagi Muslim yang memiliki keterbatasan, tetap dapat mempersembahkan 1  qurban dengan diniatkan untuk dirinya dan dan keluarganya. Hal tersebut diperjelas oleh Imam Malik sebagaimana penjelasan Beliau sebagai berikut:

وَأَحْسَنُ مَا سَمِعْتُ فِي الْبَدَنَةِ وَالْبَقَرَةِ وَالشَّاةِ أَنَّ الرَّجُلَ يَنْحَرُ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ الْبَدَنَةَ وَيَذْبَحُ الْبَقَرَةَ وَالشَّاةَ الْوَاحِدَةَ هُوَ يَمْلِكُهَا وَيَذْبَحُهَا عَنْهُمْ وَيَشْرَكُهُمْ فِيهَا

(Penjelasan yang paling baik yang aku dengar tentang qurban unta, sapi dan kambing, yaitu seorang lelaki boleh menyembelih seekor unta, sapi atau kambing untuk dirinya dan untuk keluarganya. Dialah pemiliknya, dan ia sembelih untuk keluarganya juga. Dia sertakan mereka bersamanya pada kurban tersebut). [Imam Malik berkata di dalam kitab Al Muwaththa’].

InsyaAllah ibadah Qurban yang kita tunaikan dapat menjadikan Allah SWT ridha kepada kita dan keluarga kita, sehingga limpahan rahmat-Nya akan dicurahkan kepada kita dan keluarga kita selama di dunia sampai ke akhirat kelak.

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ عَمَلاً أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هِرَاقَةِ دَمٍ وَإِنَّهُ لَيَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَظْلاَفِهَا وَأَشْعَارِهَا وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ عَلَى الأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا

Dari ‘Aisyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah pada hari nahr manusia beramal suatu amalan yang lebih dicintai oleh Allah daripada mengalirkan darah dari hewan qurban. Ia akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, kuku, rambut hewan qurban tersebut. Dan sungguh, darah tersebut akan sampai kepada (ridha) Allah sebelum tetesan darah tersebut jatuh ke bumi, maka bersihkanlah jiwa kalian dengan berkurban.” [HR. Ibnu Majah no. 3126 dan Tirmidiz no. 1493].

* * *

Wednesday, July 26, 2017

PENERIMA MANFAAT BULAN JUNI 2017

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim.
Assalammu’alaikum Warahmatullahi Wabarakahtuh.
Alhamdulillahi Rabbil Alamin, Shalawat dan Salam kepada Rasulullah SAW beserta Para Pengikutnya, Umat Islam.

Pada bulan Ramadhan 1438H / Juni 2017, penyaluran dana Baitul Mal MI-114 telah diberikan kepada 2 orang Mustahiq terdiri dari 1 orang laki-laki dengan pekerjaan cleaning service di daerah Blok M, Jakarta Selatan dan 1 orang perempuan lansia di daerah Jatinegara, Jakarta Timur.

Terima kasih kepada Para Sahabat Majelis dan Jama'ah Masjid Al-Mu'minun, khususnya Para Donatur yang telah memberikan dukungan untuk Pengembangan Majelis. InsyaAllah setiap amal kita bernilai ibadah dan membawa barakah yang besar dan banyak untuk kita dan keluarga kita.

Walhamdulillahi Rabbil Alamin.
Salam ShemangatzZz.
Majelis Ilmu 114.

* * *


Monday, July 24, 2017

SILATURAHIM

Di Bulan Syawal yang berkah ini, mari kita jaga dan sambung silaturahim, insyaAllah kita dimampukan menjadi Ulul Albab (orang-orang berakal yang dapat mengambil hikmah dan memperoleh hidayah Allah SWT), yang salah satu cirinya adalah menjaga silaturahim sebagaimana Firman Allah SWT: “dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan (Yaitu mengadakan hubungan silaturahim dan tali persaudaraan), dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk. Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (yaitu) syurga 'Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu;” (Al-Qur’an Surah Ar-Ra’d [13] ayat 21-23).

Silaturahim dalam konteks Islam bersifat universal, dimana kita sebagai Muslim diarahkan untuk menebar kebaikan kepada siapa pun, termasuk kepada orang-orang yang Non Muslim sebagaimana Firman Allah SWT: “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”. [Al-Qur’an Surah Al-Mumtahanah [60] ayat 8].

Namun, dalam melaksanakan silaturahim, kita selaku Umat Islam diberikan tuntunan yang jelas mengenai batas-batas yang tidak boleh kita langgar dan kepada siapa saja kita harus memberikan prioritas. Hal tersebut sebagaimana Firman Allah SWT: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (Al-Qur’an Surah An Nisa [4] ayat 36).

Allah SWT juga berfirman: “Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah; dan mereka itulah orang-orang beruntung” (Al-Qur’an Surah Ar Rum [30] ayat 38).

Silaturahim merupakan salah satu bentuk ibadah dalam bentuk sosial yang mendapatkan perhatian khusus dalam Islam, bahkan terdapat ancaman serius bagi orang yang memutus silaturahim, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ

“Tidak masuk surga orang yang memutus silaturahmi”. [Shahih Abu Dawud (1488), Ghayatul Maram (407): [Bukhari: 78-Kitab Al Adab, 11-Bab Itsmul Qathi. Muslim: 45-Kitab Al Birr wash Silah wal Adab halaman 18-19].

Dalam Islam menjaga Silaturahim memiliki nilai yang sangat tinggi dan keutamaan yang besar sebagaimana dijelaskan dalam Hadits-Hadits berikut:
 
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُسْطَ لَهُ فِيْ رِزْقِهِ، وَأَنْ يُنْسَأَلَهُ فِيْ أَشَرِهِ فَلْيَصِلْ

“Siapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturrahim” [Shahihul Bukhari, Kitabul Adab, Bab Man Busitha Lahu fir Rizqi Bishilatir Rahim, no. 5985, 10/415].

Hadits riwayat Imam Al-Bukhari dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِيْ رِزْقِهِ، وَيُنْسَاَ لَهُ فِيْ أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ

“Barangsiapa yang suka untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan usianya (dipanjangkan umurnya), hendaklah ia menyambung silaturrahim”. [Shahihul Bukhari, Kitabul Adab, Bab Man Busitha Lahu fir Rizqi Bishilatir Rahim, no. 5986, 10/415].

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, At-Tirmidzi dan Al-Hakim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:

تَعَلَّمُوْا مِنْ أَنْسَابِكُمْ مَا تَصِلُوْنَ بِهِ اَرْحَامَكُمْ، فَإِنَّ صِلَةَ الرَّحِمِ مَحَبَّةٌ فِيْ الأْهْلِ، مُشَرَّاةٌ فِيْ الْمَالِ، مُنْسَأَةٌ فِيْ الْعُمْرِ

“Belajarlah tentang nasab-nasab kalian sehingga kalian bisa menyambung silaturrahim. Karena sesungguhnya silaturrahim adalah (sebab adanya) kecintaan terhadap keluarga (kerabat dekat), (sebab) banyak – nya harta dan bertambahnya usia”. [Al-Musnad, no. 8855, 17/42 ; Jami’ut Tirmidzi, Abwabul Birri wash Shihah, Bab Ma Ja’a fi Ta’limin Nasab, no. 2045, 6/96-97, dan lafazh ini miliknya ; Al-Mustadrak ‘alash Shahihain, Kitabul Birr wash Shilah, 4/161. Imam Al-Hakim berkata. ‘Hadits ini sanad-nya shahih, tetapi tidak dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim (Op.cit, 4/161). Hal ini juga disepakati oleh Adz-Dzahabi (Lihat, Al-Talkhish, 4/161). Syaikh Ahmad Muhammad Syakir menyatakan sanad-nya shahih. (Lihat, Hamisyul Musnad, 17/42). Dan ia dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani. (Lihat, Shahih Sunan At-Tirmidzi, 2/190)].

* * *